Kominfo Upayakan Tumbuhnya Ekosistem Animasi dan Game

LOKAKARYA : Lokakarya Pemenuhan Kebutuhan Kualifikasi SDM untuk Industri Game, di Kampus Sekolah Tinggi Multi Media, Kamis 7 Februari 2019.

STMM/Sony W

Kominfo Upayakan Tumbuhnya Ekosistem Animasi dan Game

PEMBANGUNAN ekosistem animasi di Indonesia dirasa masih kurang. Akibatnya penyerapan SDM dengan kompetensi animasi di dalam negeri kurang baik. Mereka justru terserap pada industri animasi negara-negara lain yang ekosistemnya lebih baik.

                “Ekosistem dan kebijakan pemerintah belum mendukung terhadap industri animasi,” ungkap Kaprodi Animasi Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Drs Priya Wintar Mcom, saat Loka Karya Pemenuhan Kebutuhan Kualifikasi SDM untuk Industri Game, Kamis 7 Februari 2019, di kampus setempat.

                Priya mencontohkan, di beberapa negara tetangga seperti Malaysia pemerintah telah mendorong pertumbuhan animasi dengan kebijakan penyiaran. “Mereka sudah mewajibkan televisi pada jam-jam tertentu menayangkan animasi lokal,” kata Priya.

                Menanggapi hal itu Direktur Ekonomi Digital, Aptika, Kementerian Kominfo Nizam Waham menyetujui bahwa ekosistem memang sangat penting. Namun, pihaknya masih belum mau terburu-buru menerbitkan kebijakan. “Ekosistem memang sangat penting. Tapi sekarang ini kalau mau bikin regulasi harus hati-hati. Kalau bisa dihindari dan lebih menekankan akselerasi,” kata Nizam.

                Nizam, mengakui persoalan ini butuh pendekatan dengan stasiun-stasiun televisi. Namun pihaknya berjanji akan mendorong stasiun televisi untuk mendukung terbentuknya ekosistem animasi yang lebih baik.

                “Harus ditemukan dulu, jika ada penawaran seperti ini apa keuntungan bagi mereka,” imbuhnya.

SDM dan Industri Game

                Sementara itu, di sektor game SDM yang ada di Indonesia sebenarnya bisa bersaing dengan SDM dari luar. Hanya saja, dunia industri ternyata menginginkan kompetensi yang sangat spesifik, sesuai dengan kebutuhan mereka.

                “Jadi misalnya untuk magang saja, kami hanya menerima yang kami butuhkan untuk project yang sedang dikerjakan. Kalau butuhnya animator ya kami tidak menerima yang programmer,” kata CEO Digital Happines Rahmad Imron.

                Menurutnya, game developer seperti Digital Happines, juga lebih melihat kompetensi dari portofolio yang diajukan pelamar. “Kami lihat portofolionya seperti apa. Kami tidak melihat dia lulusan mana,” tambahnya.

                Edwin dari Garena Indonesia, sebagai game publisher, juga berpendapat senada. Baginya, cara membuat portofolio sangat penting. Meski terkesan sederhana punya impact yang besar dalam penerimaan SDM.

“Buat portofolio pendek saja. Satu lembar cukup. Tapi di situ yang ditunjukkan yang paling dibutuhkan perusahaan. Kita enggak mau baca panjang-panjang. Makanya buat portofolio jangan satu untuk semua. Sesuaikan saja dengan kebutuhan,” ungkapnya. (Sony Way)